Setahun Tanpa Bensin: Hitung-hitungan Jujur Biaya Perawatan BYD Dolphin Setelah 20.000 KM

Table of Contents

Banyak orang bilang pindah ke mobil listrik (EV) itu seperti membeli masa depan. Tapi bagi saya, setelah tepat 365 hari memarkir BYD Dolphin di garasi dan menempuh jarak lebih dari 20.000 KM, ini bukan soal gaya hidup—ini soal kalkulator.

​Jika Anda sedang menimbang-nimbang untuk meninggalkan mobil bensin (ICE) dan beralih ke si "Lumba-lumba" elektrik ini, izinkan saya membedah dompet saya secara transparan. Apakah benar-benar hemat, atau justru ada biaya tersembunyi yang tidak tertulis di brosur?


​1. Biaya "Bahan Bakar": Listrik vs Bensin

​Selama setahun, saya mencatat hampir semua pengisian daya melalui aplikasi EV Charge dan tagihan listrik rumah. Dengan jarak 20.000 KM, BYD Dolphin saya rata-rata menghabiskan 1 kWh untuk 7–8 KM.

  • Total Listrik yang Digunakan: Sekitar 2.600 kWh.
  • Biaya (Home Charging - Tarif Rp1.699/kWh): Rp4.417.400.
  • Biaya (SPKLU Fast Charging - Sesekali Luar Kota): Estimasi Rp1.200.000.
  • Total Biaya "Energi": Rp5.617.400.

​Bandingkan dengan mobil city car bensin yang biasa saya pakai dulu (konsumsi 1:12). Untuk 20.000 KM dengan harga Pertamax Rp13.000-an, saya harus merogoh kocek sekitar Rp21.600.000. Di sini saja, saya sudah hemat sekitar Rp16 juta!

​2. Biaya Servis Berkala (Spoiler: Sangat Membosankan)

​Ini adalah bagian yang paling aneh bagi pemilik mobil konvensional. Biasanya, setiap 5.000 atau 10.000 KM, kita pusing memikirkan ganti oli mesin, filter oli, hingga busi.

​Di BYD Dolphin? Tidak ada.

Pada servis 1.000 KM dan 10.000 KM, biaya jasanya masih gratis. Yang dilakukan teknisi hanya pengecekan sistem komputer, pembersihan rem, dan rotasi ban.

  • Total Biaya Servis 1 Tahun: Rp0 (karena masih dalam paket free service).
  • Prediksi Tahun Depan: Mungkin hanya ganti filter AC dan cairan wiper yang harganya tidak sampai seharga paket internet bulanan Anda.

​3. Pajak Tahunan (STNK) yang "Gak Masuk Akal"

​Salah satu keuntungan terbesar memiliki EV di Indonesia pada tahun 2026 adalah insentif pajaknya. Saat saya datang ke Samsat, saya sempat mengira petugasnya salah ketik.

  • PKB (Pajak Kendaraan Bermotor): Karena insentif pemerintah, pajak tahunan BYD Dolphin saya hanya berada di kisaran Rp100.000 - Rp200.000. Sebagai perbandingan, mobil bensin dengan harga serupa biasanya pajaknya Rp3-4 jutaan.

​4. Hal-Hal yang Tidak Mengenakkan (Realita Lapangan)

​Tentu saja, tidak semuanya indah. Ada biaya yang tetap harus keluar:

  • Ban Lebih Cepat Aus? Karena torsi instan EV yang kuat, saya merasa ban depan sedikit lebih cepat menipis dibanding mobil lama saya. Estimasi penggantian ban mungkin akan maju lebih cepat ke tahun kedua atau ketiga.
  • Asuransi: Premi asuransi mobil listrik cenderung sedikit lebih mahal daripada mobil bensin karena nilai baterainya yang tinggi. Saya membayar sekitar Rp8-9 juta per tahun untuk All Risk.

​Kesimpulan: Apakah Worth It?

​Setelah 20.000 KM, inilah ringkasan pengeluaran operasional saya (di luar asuransi):

  • Energi: Rp5,6 Juta
  • Servis: Rp0
  • Pajak: Rp0,2 Juta
  • TOTAL: Rp5,8 Juta / tahun.

​Bandingkan dengan mobil bensin yang bisa mencapai Rp25-27 Juta untuk jarak yang sama.

Kesimpulannya: BYD Dolphin bukan hanya menang di akselerasi yang senyap dan fitur teknologi yang melimpah, tapi ia adalah pemenang mutlak dalam hal efisiensi jangka panjang. Jika Anda adalah pengemudi yang menempuh jarak lebih dari 50 KM setiap hari, mobil ini akan "membayar dirinya sendiri" lewat penghematan bensin dalam beberapa tahun ke depan.

​Tips untuk Pembaca:

Jangan lupa melakukan pengisian daya di rumah antara jam 22.00 - 05.00 jika PLN Anda memiliki diskon tarif malam untuk pemilik EV—itu akan membuat angka di atas jauh lebih murah lagi!